6 Cara Praktis Menghitung Jam Kerja dengan Akurat

Hai, saya Asim Qureshi, CEO sekaligus co-founder Jibble. Sebelum terjun membangun software waktu dan kehadiran berbasis cloud ini, saya adalah VP di Morgan Stanley selama enam tahun.

Berbekal pengalaman tersebut, fokus utama saya kini adalah membantu bisnis meningkatkan produktivitas melalui manajemen waktu yang cerdas. Saya juga berdedikasi membangun tim serta produk yang tangguh di industri apa pun.

“Waktu adalah uang, apalagi kalau bicara soal gaji.” Inilah alasan utama perusahaan memantau jam kerja karyawannya.

Dengan kata lain, pencatatan jam kerja yang akurat bukan sekadar angka di atas kertas. Yuk, simak alasan pentingnya serta cara mengelolanya dengan benar di sini.

Mengapa Perlu Menghitung Jam Kerja Secara Akurat?

Ada beberapa alasan mengapa penghitungan jam kerja harus dilakukan secara akurat. Pertama, hal ini menjamin karyawan mendapatkan upah yang adil sesuai waktu dan tenaga yang mereka curahkan. Bagaimanapun, tidak ada yang ingin dibayar kurang atau bekerja lembur tanpa kompensasi yang sepadan.

Selanjutnya, akurasi data membantu pemantauan biaya tenaga kerja menjadi lebih tepat. Jadi, anggaran terkelola secara efektif. Pihak manajemen pun bisa mengambil keputusan lebih cerdas terkait alokasi SDM.

Manajer turut terbantu dalam menciptakan suasana kerja yang lebih efisien. Dengan data yang akurat, manajer jadi makin mudah mengidentifikasi pola produktivitas dan aspek yang perlu diperbaiki.

Terakhir dan yang paling penting, pencatatan yang akurat menjadi bukti kepatuhan perusahaan terhadap hukum ketenagakerjaan yang berlaku.

Hal tersebut bisa mencegah risiko denda, menghindari penggajian yang tidak sesuai, serta mempermudah proses audit.

Orang menghitung jam kerja dan gaji dengan kalkulator

Foto oleh Mikhail Nilov di Pexels

Cara Menghitung Jam Kerja dengan Akurat

Menghitung jam kerja sebenarnya tidak harus rumit. Jika Anda baru pertama kali menghitung jam kerja secara manual, ikuti enam langkah mudah berikut agar hasilnya tetap presisi.

1. Tetapkan waktu mulai dan selesai kerja

Pertama, catatlah waktu tepat Anda mulai dan selesai bekerja. Pastikan Anda juga menyertakan waktu clock in dan out.

Jangan lupa untuk selalu mencatat tanggalnya, apalagi jika jadwal kerja Anda melewati pergantian hari.

2. Ubah waktu ke format 24 jam (waktu militer)

Langkah berikutnya yaitu mengubah waktu mulai dan selesai tadi ke format 24 jam. Penggunaan sistem ini bisa menghilangkan kebingungan yang sering muncul akibat perbedaan AM dan PM.

Contohnya, dalam format 24 jam, pukul 12:00 a.m. ditulis menjadi 00.00. Begitu juga dengan 1:00 a.m. yang menjadi pukul 01.00.

Untuk pukul 1:00 p.m. ke atas, Anda cukup tambahkan 12 pada digit jam tersebut. Misalnya, pukul 3:30 p.m. berubah menjadi 15.30. Atau, pukul 9:00 p.m. sama dengan 21.00.

Biar lebih praktis, pakai saja konverter waktu AM/PM kami!

3. Ubah menit menjadi desimal

Menghitung jam kerja jauh lebih mudah pakai angka desimal. Cukup bagi jumlah menit dengan 60 untuk mendapatkan nilai dalam satuan jam.

Berikut cara mengubahnya:

  • 15 menit = 15/60 = 0,25 jam
  • 30 menit = 30/60 = 0,5 jam
  • 45 menit = 45/60 = 0,75 jam

Biar lebih praktis, pakai saja kalkulator jam ke desimal kami!

4. Kurangi waktu mulai dari selesai kerja

Untuk mengetahui total durasi, Anda cukup kurangi waktu selesai kerja (dalam format 24 jam) dengan jam masuk.

CATATAN: Jika waktu selesai lebih awal dari jam masuk, itu artinya shift berlanjut ke hari berikutnya.

5. Potong waktu istirahat tak berbayar

Jika karyawan berhak mendapatkan jam istirahat, Anda harus memotong durasi tersebut dari total jam kerja di Langkah 4.

Pastikan perhitungan ini tetap mematuhi regulasi ketenagakerjaan di Indonesia serta kebijakan internal perusahaan mengenai jam istirahat yang tidak masuk dalam hitungan upah.

6. Jumlahkan seluruh jam kerja untuk suatu periode pembayaran

Terakhir, jumlahkan total jam kerja selama satu periode pembayaran. Caranya dengan mengakumulasikan jam kerja harian serta perhitungan lembur, jika ada.

Angka akhir yang diperoleh akan menjadi dasar pembayaran upah karyawan untuk periode tersebut.

Hal yang Perlu Diperhatikan Saat Mempertimbangkan Lembur

Saat menghitung gaji berdasarkan total jam kerja, Anda wajib memahami aturan lembur yang berlaku.

Di Indonesia, Pasal 26 PP Nomor 35 Tahun 2021 menetapkan lembur sebagai waktu kerja yang melebihi 7 jam sehari (untuk 6 hari kerja) atau 8 jam sehari (untuk 5 hari kerja). Batas waktu kerja reguler adalah 40 jam seminggu.

Selanjutnya, Pasal 27-34 mewajibkan pemberi kerja membayar upah lembur bagi karyawan yang bekerja melebihi batas waktu tersebut.

Upah ini memiliki tarif lebih tinggi dibanding jam kerja reguler. Oleh karena itu, jika durasi kerja karyawan melebihi batas standar, Anda wajib menghitung dan memasukkan kompensasi lembur ke dalam total gaji mereka.

Untuk menghitungnya, tentukanlah total jam yang melebihi batas reguler. Lalu, terapkan tarif lembur yang sesuai dengan regulasi pemerintah atau kebijakan internal perusahaan.

Saat menghitung total kompensasi, jangan lupa masukkan seluruh jam kerja tambahan selama satu periode penggajian.

Agar tidak pusing, pakai saja kalkulator lembur kami!

Contoh Simulasi Perhitungan Jam Kerja

Sekarang, mari lihat contoh perhitungannya. Anggap saja karyawan mulai bekerja pukul 9:00 a.m. dan selesai pada 5:30 p.m. Berikut cara menghitung jam kerja mereka:

    • Langkah 1: Tetapkan waktu mulai dan selesai kerja

    Waktu Mulai: 9:00 a.m., Waktu Selesai: 5:30 p.m.

    • Langkah 2: Ubah waktu ke format 24 jam (waktu militer)

    Waktu Mulai: 09.00, Waktu Selesai: 17.30 

    • Langkah 3: Ubah menit menjadi desimal

    Waktu Mulai: 9,00, Waktu Selesai: 17,50

    • Langkah 4: Kurangi waktu selesai kerja dari jam masuk

    17,50 – 9,00 = 8,50 jam

    • Langkah 5: Potong waktu istirahat tak berbayar. Jika karyawan beristirahat selama 30 menit (0,5 jam), totalnya menjadi:

    8,50- 0,5 = 8,00 jam

    • Langkah 6: Totalkan seluruh jam kerja berbayar. Ulangi proses ini untuk setiap hari kerja dalam satu periode pembayaran. Lalu, jumlahkan semuanya untuk memperoleh total jam kerja akhir.

    Bagaimana Cara Memantau Jam Kerja Karyawan?

    Sebelum mulai menghitung jam kerja, tentunya Anda butuh sistem yang efisien dan andal untuk mendata kehadiran karyawan.

    Berikut metode serta alat yang memudahkan pemantauan jam kerja:

    Kartu atau Lembar Absensi

    Metode tradisional ini sudah lama digunakan untuk mendata jam kerja karyawan. Setiap staf diberikan kartu atau buku fisik untuk mencatat jam masuk dan pulang secara manual.

    Nantinya, atasan atau staf HRD akan meninjau serta menjumlahkan total jam kerja tersebut di akhir periode penggajian.

    Kelebihan
    • Praktis dan terjangkau bagi bisnis kecil dengan sedikit karyawan.
    • Tidak memerlukan instalasi atau pelatihan khusus.
    Kekurangan
    • Rawan salah hitung karena masih manual.
    • Sulit memantau kehadiran secara real-time.
    • Proses memakan waktu dan berisiko memicu keterlambatan gaji.

    Bagi yang pakai cara manual, ringankan urusan administrasi dengan kalkulator jam kerja kami.

    Software Time Tracking

    Software time tracking memberikan solusi efisien dan akurat untuk mencatat serta menghitung jam kerja.

    Biasanya, aplikasi time clock semacam ini bisa diinstal di komputer, ponsel, atau melalui akses web.

    Keunggulan software ini adalah kemampuannya menghitung gaji karyawan secara otomatis. Perhitungannya menggunakan tarif per jam yang telah ditentukan.

    Menariknya, software time tracking seperti Jibble sudah dilengkapi fitur pelaporan dan invoicing. Bagusnya lagi, Anda bisa pakai aplikasi ini secara cuma-cuma!

    Kelebihan
    • Sistem otomatis mengurangi risiko salah hitung dan mempercepat proses payroll.
    • Pemantauan real-time untuk kehadiran karyawan.
    • Tersedia laporan yang menunjukkan produktivitas karyawan serta progres proyek secara mendalam.
    Kekurangan
    • Butuh instalasi dan mungkin pelatihan untuk menggunakannya.

    Mesin Absensi Ceklok

    Mesin absensi ceklok sudah puluhan tahun digunakan di dunia kerja.

    Dengan metode ini, karyawan perlu memasukkan kartu absen ke dalam mesin untuk mencatat jam kerja. Mesin tersebut kemudian mencetak stempel waktu secara otomatis pada kartu.

    Kelebihan
    • Andal dan tahan lama karena tidak perlu listrik atau software.
    • Menjadi cadangan bukti fisik jika sistem digital sedang bermasalah.
    Kekurangan
    • Sama seperti lembar absensi, masih ada risiko salah hitung dan perlu ditinjau manual.
    • Tidak ada fitur pemantauan dan pelaporan real-time.

    Mesin Absensi Elektronik

    Alat ini adalah versi modern dari mesin absensi ceklok. Alih-alih kartu berbahan kertas, mesin elektronik sudah pakai kartu akses.

    Tinggal tempelkan kartu elektronik tersebut ke mesin, waktu clock in dan out karyawan akan langsung tercatat.

    Kelebihan
    • Lebih akurat dan efisien daripada lembar absensi atau mesin ceklok.
    • Bisa diintegrasikan dengan software time tracking agar data dan pelaporan tersinkronisasi secara real-time.
    • Mendukung fitur keamanan tambahan seperti otentikasi biometrik.
    Kekurangan
    • Ada biaya instalasi dan maintenance yang berkelanjutan.
    • Harus dicolok ke listrik dan berpotensi mengalami kendala teknis.

    Metode time tracking pilihan sebaiknya menyesuaikan ukuran bisnis, anggaran, dan tingkat otomatisasi yang diperlukan. 

    Bagi bisnis kecil yang karyawannya sedikit, lembar absensi atau mesin ceklok mungkin sudah cukup.

    Sebaliknya, software time clock bisa jadi pilihan sempurna bagi perusahaan besar yang memerlukan pencatatan otomatis.

    Memanfaatkan Time Tracking Otomatis demi Efisiensi

    Bisa disimpulkan, mencatat dan menghitung jam kerja secara akurat sangatlah penting bagi perusahaan maupun karyawan.

    Dengan 6 langkah praktis di atas, kini Anda punya cara yang bisa diandalkan agar data kehadiran tetap akurat dan adil bagi semua pihak.

    Jika ingin lebih praktis, Anda bisa beralih sepenuhnya ke software waktu dan kehadiran. Sistem ini akan menghitung total jam kerja secara otomatis begitu karyawan clock in dan out.

    Alat tersebut bukan sebatas menghemat waktu. Risiko salah hitung akibat kelalaian manusia pun bisa berkurang drastis.

    Ingat, pencatatan waktu yang tepat akan meningkatkan efisiensi sekaligus membangun rasa percaya dan transparansi antara pemberi kerja dan karyawan.

    Jadi, mulailah kelola data kehadiran dengan langkah-langkah simpel ini agar suasana kerja di kantor makin terstruktur dan produktif.

    Artikel Terkait:

    Panduan Praktis Kalkulator Jam Kerja

    Apa Itu Pelacak Jam Kerja?

    Rata-Rata Jam Kerja per Minggu di Seluruh Dunia

    6 Alasan Kenapa Karyawan Tetap Membutuhkan Timesheet