Kerja WFO:
Kelebihan, Kekurangan, dan Strategi Implementasi Terbaik agar Sukses

Hi, saya Asim Qureshi, CEO dan co-founder Jibble, software waktu dan kehadiran berbasis cloud. Saya punya pengalaman bertahun-tahun dalam membangun dan mengembangkan produk dan tim software di berbagai industri maupun pasar.

Sebelum mendirikan Jibble, saya bekerja sebagai VP di Morgan Stanley selama enam tahun. Saya sangat passionate membantu bisnis meningkatkan produktivitas dan kinerja mereka melalui praktik manajemen karyawan yang cerdas.

Era pasca pandemi disambut dengan gelombang tren Return to Office (Kembali ke Kantor). Sebagian besar tren ini berasal dari perusahaan besar seperti Boeing, UPS, dan JPMorgan Chase. Tentu saja, hal ini tidak luput dari kontroversi dan beberapa penolakan serius.

Namun, sementara gelombang wajib kerja WFO perlahan-lahan mulai mereda, beberapa perusahaan masih mencoba menavigasi cara agar karyawan mereka kembali sepenuhnya ke kantor, atau setidaknya untuk sebagian waktu.

Tentu saja saya memahaminya. Tren kerja remote sepenuhnya mungkin tidak akan sesuai dengan kebutuhan semua perusahaan. Kami cukup beruntung di Jibble karena peralihan dari kerja kantoran ke remote 100% berhasil bagi kami.

Jadi, apa pun yang direncanakan untuk perusahaan Anda, baik itu model hybrid atau sepenuhnya kerja WFO, pastikan untuk mengimplementasikan transisi itu dengan matang.

Kabar baiknya, ada beberapa cara untuk melakukannya tanpa menjadi orang yang paling menyebalkan di kantor!

Itulah yang akan kita bahas dalam artikel ini, beserta kelebihan dan kekurangan yang menyertai keputusan tersebut. Tanpa basa-basi, yuk mulai!

Tim yang bekerja WFO sedang rapat

Foto oleh Jason Goodman di Unsplash

Apa Kelebihan Kerja WFO?

Kembali kerja WFO setelah bekerja remote dalam waktu lama bisa membawa berbagai keuntungan bagi karyawan maupun perusahaan. Keuntungan tersebut perlu dimanfaatkan saat mencoba mendorong karyawan kembali bekerja WFO.

  • Work-Life Balance – Bagi banyak orang, kembali kerja di kantor bisa membantu ciptakan boundary jelas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Karyawan bisa meninggalkan pekerjaan di kantor. Jadi, ini bisa mengurangi kemungkinan membawa stres terkait pekerjaan ke rumah. Selain itu, model kerja hybrid memungkinkan fleksibilitas pada hari-hari kerja dari rumah. Ini memberikan kesempatan bagi karyawan untuk mengelola tugas pribadi bersama komitmen kerja mereka tanpa judgment.
  • Employee Recognition Teroptimasi – Kehadiran secara fisik di kantor dapat menghasilkan visibilitas yang lebih besar. Penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pemimpin (96%) lebih mudah mengakui kontribusi karyawan di lokasi daripada mereka yang bekerja remote. Peningkatan interaksi tatap muka ini bisa menghasilkan peluang pengembangan karier yang lebih baik, karena para pemimpin lebih cenderung memperhatikan dan mengakui kerja keras serta pencapaian.
  • Peningkatan Peluang Mentorship – Bagi para profesional muda dan mereka yang baru memulai karier, kembali bekerja di kantor menawarkan akses yang lebih besar ke bimbingan dan pelatihan langsung. Berada di ruang fisik yang sama dengan rekan kerja berpengalaman memungkinkan pembelajaran dan panduan spontan.
  • Kolaborasi Spontan – Selain peluang bimbingan yang ditingkatkan, kehadiran secara fisik di kantor juga berarti karyawan memiliki lebih banyak kesempatan untuk koneksi dan interaksi dadakan. Momen-momen yang tidak direncanakan ini, baik itu obrolan singkat di dekat mesin kopi atau sesi curhat di lorong, dapat menghasilkan ide-ide baru, pemecahan masalah lebih cepat, dan hubungan kerja yang lebih kuat. Interaksi semacam itu berkontribusi pada rasa komunitas dan kepemilikan yang mungkin lebih sulit untuk ditiru dalam sistem remote.
  • Akses ke Sumber Daya – Kehadiran secara fisik di kantor memberikan karyawan akses langsung ke alat, peralatan, dan dukungan yang diperlukan. Kemudian, ketika memiliki apa yang dibutuhkan di sekitar diri sendiri, Anda kemungkinan besar akan merampingkan proses kerja dan meminimalkan banyak waktu henti tak penting.

Apa Kekurangan Kerja WFO?

Sama seperti adanya manfaat untuk kembali bekerja di kantor, ada juga kekurangannya. Berikut adalah kerugian utama yang harus diatasi jika Anda berharap karyawan kembali ke kantor:

  • Repotnya Perjalanan – Mungkin salah satu kelemahan paling signifikan dari kerja WFO adalah perjalanan harian. Karyawan yang telah menikmati kenyamanan bekerja dari rumah mungkin merasa sulit untuk kembali ke perjalanan jauh, menghadapi kemacetan, atau mengandalkan transportasi umum.
  • Berkurangnya Fleksibilitas – Kerja remote telah memperkenalkan tingkat fleksibilitas yang sulit untuk ditiru dalam kantor tradisional. Kembali ke kantor sering kali berarti berkurangnya otonomi atas jadwal kerja dan waktu pribadi. Sesuatu yang mungkin sulit diterima oleh banyak karyawan.
  • Waktu Fokus yang Berkurang – Percakapan, rapat untuk hal-hal kecil, dan interaksi santai, meskipun bermanfaat untuk kerja tim, bisa mengganggu waktu fokus karyawan.

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi kerugian ini. Anda mungkin mempertimbangkan untuk menerapkan waktu kedatangan dan keberangkatan yang fleksibel. Ini bisa membantu karyawan menghindari kemacetan di jam sibuk. 

Selain itu, Anda bisa menawarkan tunjangan perjalanan atau mengatur layanan antar-jemput bagi mereka yang tidak memiliki kendaraan. Hal ini bisa secara signifikan meringankan beberapa tekanan finansial dan logistik yang menyertai perjalanan.

Model kerja hybrid juga bisa membantu mencapai keseimbangan antara mengajak karyawan kembali ke kantor. Ini sekaligus tetap memberi karyawan fleksibilitas yang sudah biasa mereka rasakan.

6 Strategi Implementasi Kerja WFO Terbaik Agar Sukses

Menerapkan kebijakan WFO bisa sangat menantang. Namun, hal itu bisa dilakukan. Bukan melalui ancaman terselubung dan paksaan. Namun, ini perlu dilakukan dengan mendekati transisi tersebut melalui transparansi dan fokus pada manfaat bersama. 

Berikut adalah strategi yang dapat membantu Anda memulai ke arah yang benar:

1. Libatkan Karyawan dalam Keputusan

Ketika karyawan merasa dihargai dan didengar, mereka lebih cenderung setuju dengan perubahan, termasuk peralihan kembali ke kantor.

Mulailah dengan melibatkan tim Anda melalui survei atau pertemuan tatap muka untuk mengukur pemikiran dan kekhawatiran mereka tentang kembali ke kantor. 

Tanyakan kepada mereka tantangan apa yang mereka antisipasi. Lalu, tanyakan juga apa yang akan membuat transisi lebih lancar. 

Pendekatan tersebut tidak hanya memberi Anda wawasan berharga. Tetapi ini juga menunjukkan kepada karyawan Anda bahwa pendapat mereka penting.

2. Rencanakan Transisi WFO secara Bertahap

Untuk mempermudah peralihan kerja WFO, pertimbangkan pendekatan bertahap. Alih-alih mewajibkan semua orang untuk kembali penuh waktu secepat mungkin, mulailah dengan beberapa hari seminggu.

Dengan pendekatan tersebut, karyawan tidak merasa terlalu terbebani oleh perubahan tersebut.

Anda bisa mengimplementasikan model kerja hybrid, yang mana karyawan datang untuk hari-hari inti sambil bekerja remote di waktu lain. Transisi bertahap ini memungkinkan karyawan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan kantor sambil tetap mendapatkan manfaat dari fleksibilitas kerja remote

Transisi bertahap juga memungkinkan Anda untuk memantau seberapa baik peralihan tersebut berjalan dan melakukan penyesuaian sesuai kebutuhan.

Seiring adaptasi karyawan, Anda bisa secara perlahan meningkatkan jumlah hari di kantor berdasarkan feedback mereka dan kebutuhan perusahaan secara keseluruhan.

3. Ciptakan Ritual Tatap Muka yang Baru

Sebuah artikel dari Harvard Business Review oleh Chris Capossela mengatakannya dengan sangat tepat: “ Nilai dari kantor terletak pada orang-orangnya, bukan tempatnya.”

Salah satu alasan paling kuat untuk bekerja WFO adalah kesempatan untuk terhubung kembali dengan rekan kerja. Orang-orang sebenarnya menghargai hubungan mereka dan interaksi sosial yang mereka miliki dengan rekan kerjanya. 

Jadi, untuk membuat WFO menjadi menarik dan bermanfaat, menciptakan ritual tatap muka yang baru adalah kunci utama.

Mulailah dengan memperkenalkan aktivitas sosial rutin yang memberikan kesempatan bagi karyawan untuk membangun dan memperkuat hubungan mereka. Misalnya, Anda dapat mengatur makan siang tim mingguan, istirahat kopi, atau sesi curhat informal. 

Pertemuan tersebut menyediakan suasana santai bagi karyawan untuk berinteraksi dan ngobrol. Ini bisa membantu membangun kembali ikatan tim dan menumbuhkan rasa persahabatan.

Penting juga untuk merayakan pencapaian dan milestone bersama. Mengakui kesuksesan tim atau kontribusi individu dengan perayaan kantor kecil dapat meningkatkan semangat dan memperkuat rasa kepemilikan.

Dengan menciptakan ritual tatap muka yang baru ini, Anda dapat mengubah kantor menjadi tempat yang benar-benar dinikmati karyawan untuk dikunjungi kembali. Pada akhirnya, itu tidak akan menjadi hal yang sulit untuk ditawarkan saat Anda meluncurkan kebijakan WFO tersebut.

Karyawan WFO bekerja bersama dengan semangat

Foto oleh Priscilla Du Preez di Unsplash

4. Jadikan Kantor Tempat untuk Produktivitas dan Kolaborasi

Anda bersaing dengan kenyamanan rumah dan memang tidak ada yang bisa mengalahkannya. Namun, ada cara untuk membuat kantor menjadi tempat kerja yang lebih menarik dan dinamis.

Fleksibilitas adalah kunci bahkan di ruang kantor. Gabungkan tata letak terbuka dengan area khusus untuk kerja tim, curhat, dan interaksi sosial. Cobalah untuk membuatnya terasa mengundang dan tidak terlalu formal dibandingkan ruang konferensi tradisional. 

Pertimbangkan untuk menambahkan furnitur yang dapat dipindahkan dan papan tulis yang memungkinkan fleksibilitas dalam cara kelompok berkumpul.

Ruang kolaboratif ini mendorong komunikasi dan berbagi ide, menumbuhkan rasa komunitas di antara anggota tim.

Selain itu, pastikan ada zona tenang di mana karyawan dapat fokus pada tugas tanpa gangguan. Menyediakan bilik kedap suara atau ruang tenang khusus dapat membantu individu berkonsentrasi dan menyelesaikan pekerjaan dengan lebih efisien.

5. Gunakan Teknologi untuk Mengelola Transisi WFO secara Efisien

Ada banyak alat software yang dapat membantu Anda selama transisi WFO. Salah satu yang utama adalah aplikasi absensi.

Dengan aplikasi absensi, Anda dapat dengan mudah melacak kedatangan dan keberangkatan karyawan di kantor. Ini juga mampu memastikan bahwa setiap orang mematuhi jadwal hari kantor mereka. 

Kemudian, pertimbangkan untuk menggunakan aplikasi absensi dengan face recognition. Dengan begitu, Anda dapat memverifikasi bahwa hanya personel resmi yang mengakses kantor.

Selain itu, geofencing juga merupakan fitur aplikasi absensi yang layak dipertimbangkan. Fitur ini memungkinkan Anda untuk menetapkan batas virtual di sekitar ruang kantor Anda. Ini memastikan bahwa waktu hanya dicatat ketika karyawan secara fisik hadir di dalam area yang ditentukan.

Selain software absensi, pertimbangkan untuk menggunakan alat kolaborasi agar komunikasi tetap mengalir. 

Platform seperti Slack atau Microsoft Teams memungkinkan tim untuk tetap terhubung, berbagi pembaruan, dan berkolaborasi dalam proyek secara real-time, terlepas dari lokasi fisik mereka. Ini membantu menjaga produktivitas dan keterlibatan, bahkan saat karyawan bertransisi kembali ke kantor.

6. Berikan Insentif

“Atasan yang menuntut karyawannya bekerja dari kantor tanpa memberi insentif akan kesulitan untuk mempertahankan mereka.” – Dan Drogman, Forbes

Siapa yang tidak suka insentif, bukan? Saat mendorong karyawan untuk kembali ke kantor, menawarkan insentif dapat membuat perbedaan besar.

Mulailah dengan mempertimbangkan insentif apa yang paling sesuai dengan tim Anda. Ini bisa berupa apa saja, mulai dari jam kerja yang fleksibel dan cuti berbayar tambahan hingga bonus finansial bagi mereka yang rutin datang ke kantor. 

Bahkan tunjangan kecil, seperti kartu hadiah atau merchandise perusahaan, dapat menunjukkan apresiasi dan mendorong kehadiran.

Menciptakan lingkungan kantor yang lebih menyenangkan juga dapat berfungsi sebagai insentif. Pertimbangkan untuk menyediakan camilan gratis, kopi, atau program kebugaran untuk meningkatkan pengalaman di tempat kerja. 

Anda bahkan dapat mengatur acara sosial rutin atau hari bertema, seperti Jumat santai atau makan siang tim.

Sedikit motivasi ekstra dapat sangat membantu dalam membuat karyawan merasa dihargai dan benar-benar bersemangat untuk kembali ke kantor.

Menciptakan Pengalaman Kerja WFO yang Positif

WFO  tidak selalu menjadi keputusan yang paling disukai di kalangan karyawan. Jadi, diperlukan pemikiran serius dan perencanaan yang matang untuk memastikan transisi yang lancar.

Memahami kekhawatiran karyawan dan mengatasinya secara proaktif adalah kuncinya. Dengan berkomunikasi secara jelas, menawarkan insentif, dan menciptakan lingkungan kerja yang positif, Anda dapat memudahkan peralihan dan membantu karyawan beradaptasi dengan lebih mudah.

Semoga tips ini membantu Anda menavigasi proses kembali ke kantor. Ingat, tujuannya adalah untuk menciptakan ruang di mana karyawan benar-benar ingin kembali, tempat di mana mereka dapat berkolaborasi, berbagi ide, dan merasa dihargai.