6 Tips Mengelola Sistem Hybrid Agar Pekerjaan Makin Efisien

Hai, saya Asim Qureshi, CEO sekaligus co-founder Jibble. Sebelum terjun membangun software waktu dan kehadiran berbasis cloud ini, saya adalah VP di Morgan Stanley selama enam tahun.

Berbekal pengalaman tersebut, fokus utama saya kini adalah membantu bisnis meningkatkan produktivitas melalui manajemen waktu yang cerdas. Saya juga berdedikasi membangun tim serta produk yang tangguh di industri apa pun.

Lewat artikel ini, saya akan membantu Anda memahami cara kelola sistem hybrid agar operasional bisnis tetap berjalan lancar.

Wajah dunia kerja sudah banyak berubah. Tren yang berkembang membawa perubahan drastis pada cara orang memandang karier mereka. Fenomena ini terlihat dari makin banyaknya pekerja yang mengejar fleksibilitas penuh dalam mengatur waktu dan lokasi kerjanya. Namun, sistem hybrid menjadi pilihan yang paling diminati oleh banyak kalangan.

Di Indonesia, minat terhadap kerja remote meningkat drastis selama lima tahun terakhir. Melalui survei “Decoding Global Talent 2024 Tren Mobilitas Kerja” yang dilansir Tempo, antusiasme pekerja lokal untuk mengadopsi sistem ini terlihat sangat tinggi. Jika pada 2020 hanya sekitar 55 persen yang berminat, angka pekerja yang memilih kerja remote meroket tajam hingga 71 persen pada 2023.

Tren ini pun diperkuat oleh temuan terbaru JLL Indonesia mengenai mobilitas kerja. Sebanyak 87% karyawan korporasi di tanah air kini menjalankan mandat RTO atau skema kerja hybrid terstruktur. Angka ini tercatat hampir dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan rata-rata negara lain di kawasan Asia Pasifik.

Dalam lanskap yang dinamis ini, kemampuan beradaptasi sudah menjadi syarat mutlak bagi seorang manajer. Skill tersebut wajib dikuasai agar tetap kompetitif.

Pasalnya, keberhasilan sistem hybrid sangat bergantung pada cara manajer menghadapi tantangan unik di dalamnya. Manajer harus selalu sigap mengambil peluang dari berbagai keuntungan yang ada bagi tim.

Oleh karena itu, saya akan merangkum enam cara efektif mengelola sistem hybrid agar operasional tim tetap berjalan lancar.

Apa Itu Kerja Hybrid?

Pada dasarnya, sistem kerja hybrid adalah kombinasi antara bekerja remote dan di kantor. Dalam sistem ini, karyawan memiliki fleksibilitas untuk bekerja dari rumah atau lokasi lain selama beberapa hari dalam seminggu. Sisa harinya, mereka akan datang ke kantor untuk bekerja bareng tim.

Banyak perusahaan besar telah menerapkan kebijakan ini untuk merespons perubahan gaya hidup karyawan.

Salah satunya adalah perusahaan asuransi AXA Indonesia yang menerapkan sistem smart working untuk mendukung fleksibilitas karyawannya. Model kerja hybrid ini dirancang guna menyeimbangkan produktivitas dengan kesejahteraan serta kesehatan mental tenaga kerja.

Kebijakan ini mewajibkan karyawan untuk datang ke kantor selama tiga hari. Dua hari sisanya, karyawan diberikan kebebasan penuh untuk bekerja dari rumah. Aturan ini diterapkan agar kolaborasi tatap muka tetap terjaga dengan baik.

Sistem hybrid hadir sebagai solusi jalan tengah yang ideal. Karyawan tidak perlu setiap hari berjuang menembus kemacetan. Mereka pun punya lebih banyak waktu dan energi. Meski begitu, hubungan emosional dan kreativitas tetap terjaga melalui interaksi tatap muka secara berkala.

Penerapan skema ini membantu perusahaan dan karyawan tetap produktif. Kepuasan kerja pun meningkat karena sistem tersebut sangat relevan dengan kebutuhan dunia kerja masa kini.

Pria yang bekerja di sistem hybrid

Foto oleh Luke Peter di Unsplash